PROGRAMPROGRAM PERTUKARAN PELAJAR MEXT - KOBE WOMEN’S UNIVERSITY (2023)
Saya Ni Luh Retza Rizkyananda, seorang mahasiswa tingkat 4 di Universitas
Udayana yang saat ini berusia 20 tahun. Di akhir semester 6, saya mendaftar program
pertukaran pelajar yang didanai oleh pemerintah Jepang, dikenal sebagai program beasiswa
MEXT. Program ini berlangsung selama 1 tahun dan saya mendapatkan 10 mata kuliah
selama belajar di universitas tujuan. Universitas yang menjadi tempat saya belajar adalah
Kobe Women’s University, atau masyarakat umum lebih mengenalnya dengan sebutan
“Shinjo”. Universitas ini merupakan universitas khusus pelajar wanita yang terletak di
wilayah Kobe, Jepang. Kobe Women’s University memiliki dua kampus. Kampus pertama
adalah kampus yang terletak di daerah Suma dan yang kedua terletak di Portland. Setiap hari
Senin - Jum’at, saya mengikuti perkuliahan yang ada di Kampus Suma. Dari asrama tempat
saya tinggal, hanya perlu waktu 5 menit untuk bisa sampai ke sana dengan menggunakan bus.
Selama belajar di kampus ini, saya merasakan begitu banyak pengalaman baru yang
tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Seperti halnya, saya diperlihatkan begitu banyak cara
belajar yang menyenangkan dan membuat saya merasa terpacu untuk belajar lebih giat lagi
dari sebelumnya. Seluruh pengajar yang ada di sini juga selalu memastikan bahwa saya tidak
mengalami kesulitan selama proses pembelajaran berlangsung dan beberapa dari mereka
bahkan berusaha mengajar dalam dua bahasa (Jepang dan Inggris) agar saya senantiasa
merasa lebih nyaman dalam menerima informasi yang disampaikan. Perkuliahan di Indonesia
pada umumnya seringkali meminta mahasiswa untuk melakukan presentasi paling tidak 4-5
kali dalam satu semester, dan biasanya dilakukan secara berkelompok. Namun selama saya
berkuliah di Kobe Women’s University. setiap mata kuliah yang ada di sini biasanya hanya
meminta mahasiswa untuk melakukan presentasi 1-2 kali dalam satu semester, dan hal ini
biasanya dilakukan sendiri-sendiri. Meski begitu, terkadang ada juga presentasi yang
dilakukan secara berkelompok jika memang diperlukan.
Fokus utama saya selama di sini adalah mempelajari mengenai bahasa dan juga
budaya Jepang. Oleh karena itu, mata kuliah yang saya ambil cenderung berkaitan dengan
sastra dan linguistik. Di samping itu, saya juga mengambil satu mata kuliah internasional,
yakni Kokusai Communication Enshuu II, yang di mana mata kuliah ini mempelajari bahasa
Inggris sebagai sarana berkomunikasi dengan orang-orang di seluruh dunia. Terlepas dari
akademik, tentu pihak kampus juga menawarkan beberapa kegiatan ekstrakurikuler yang
cukup menarik untuk diikuti. Dalam hal ini, klub ekstrakurikuler yang saya ambil adalah klub
tari modern dan klub bahasa Inggris. Ada satu hari di mana saya merasa sangat tersanjung
bisa mendapat kesempatan tampil di atas panggung pentas seni kampus untuk menampilkan
tari modern bersama dengan teman-teman Jepang saya. Di hari yang lain pun, saya juga
diberikan kesempatan untuk menampilkan tari tradisional asal Indonesia. Tari yang saya pilih
saat itu adalah Lenggang Nyai, tari tradisional asal Betawi yang sedari kecil sudah saya
pelajari di tempat saya tumbuh, yakni Jakarta. Saya mendapat beberapa teman yang cocok
selama di sini dan kami sering sekali bertukar informasi mengenai kehidupan di Jepang dan
juga di Indonesia. Mereka semua adalah orang Jepang, dan tak jarang mereka juga mau
membantu saya untuk menjadi lebih luwes saat berbicara menggunakan bahasa Jepang. Saya
sangat merasa terbantu akan hal tersebut.
Bicara mengenai budaya orang Jepang, ada beberapa hal yang membuat saya harus
bisa membiasakan diri dengan hal-hal tersebut selama tinggal di sana. Yang pertama adalah
orang Jepang selalu tepat waktu. Ini mungkin sudah menjadi informasi yang banyak orang
ketahui, dan ya, memang benar adanya seperti ini. Bukan hanya sekedar waktu saat masuk
kuliah atau kerja saja, tetapi juga kedatangan transportasi. Apa yang tertera pada jadwal yang
ada di stasiun, halte, atau Google Maps, kereta dan bus akan datang sesuai dengan waktu
yang ada di jadwal tersebut. Apabila terjadi keterlambatan, biasanya akan selalu ada
informasi yang disampaikan oleh staf ataupun notifikasi pemberitahuan melalui ponsel setiap
orang. Kedua, sering terjadinya bencana alam seperti gempa bumi. Tentu saja ini adalah hal
yang pernah terjadi juga di Indonesia. Namun menurut saya, di Jepang lebih sering terjadi
gempa bumi. Pertama kali saya merasakan gempa yang cukup keras, beberapa waktu
sebelumnya, ponsel saya tiba-tiba bergetar dan mengeluarkan alarm waspada bencana alam.
Yang membuat saya kagum adalah mereka memberitahukan prediksi akan hal itu sebelum
bencana benar-benar terjadi. Selain itu, selama tinggal di Jepang saya juga sudah dua kali
mengikuti pelatihan kebakaran dan juga bencana alam. Staf asrama juga memberikan saya tas
berisikan makanan darurat, apabila sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
terkait bencana.
Jepang pada dasarnya memang sudah terkenal dengan alam dan beragam tempat
wisata yang menarik di mata orang asing. Oleh sebab itu, saya beberapa kali diajak pergi oleh
beberapa dosen di Kobe Women’s University ke tempat-tempat yang sebelumnya tak pernah
saya kunjungi, seperti museum dan kuil Buddha di Nara dan juga teater Kabuki di Osaka.
Keduanya adalah karyawisata yang juga mendukung pengetahuan saya terhadap budaya-
budaya tradisional Jepang. Di luar itu, saya pribadi juga sering bepergian sendiri untuk
mengeksplor keindahan Jepang. Beberapa tempat kesukaan yang saya kunjungi adalah Osaka
dan juga Tokyo. Ketika bepergian ke Osaka, yang menjadi incaran saya adalah makanan,
tempat-tempat turis, dan juga konser band ataupun idol kesukaan saya. Saya juga sangat
bersyukur, karena setelah 4 tahun saya pada akhirnya dapat kembali mengunjungi Tokyo, dan
kali ini saya tidak perlu cemas lagi dengan kendala bahasa dan lain-lainnya. Bepergian
sendiri kemanapun yang saya inginkan selama di Jepang, entah bagaimana mampu membuat
pikiran saya terasa lebih tenang dan memiliki kepuasan tersendiri.
Terakhir, saya juga selalu berusaha membagi waktu untuk mengerjakan skripsi dan
mempelajari materi N2 untuk JLPT. Sebenarnya ada begitu banyak beban yang saya rasakan
terkait hal ini, namun dosen yang juga selaku penanggung jawab saya selama di Jepang,
yakni Yasuhara-sensei, beliau selalu mendukung kemajuan akademik saya dan meluangkan
waktu untuk memberi masukan juga semangat untuk apapun yang saya lakukan. Saya merasa
sangat terbantu akan hal tersebut dan menjadi jauh lebih bersemangat dalam melakukan
segala sesuatu selama belajar di Jepang. Adapun tujuan saya bercerita mengenai pengalaman
ini adalah agar orang-orang di Indonesia, khususnya mahasiswa Sastra Jepang, dapat
termotivasi untuk mencoba mendaftar program beasiswa di lain kesempatan. Selain
menambah wawasan, dengan mengikuti program beasiswa pertukaran pelajar seperti ini
tentunya mampu membuat kita menjadi lebih mandiri dan memiliki banyak koneksi dengan
orang-orang hebat yang ada di luar. Saya sangat merekomendasikan kegiatan ini, entah
dilakukan secara langsung ataupun secara online.



UNIVERSITAS UDAYANA